Ora Gampang Ambruk, Ora Seneng Meneng
Belajar tangguh dari filosofi Jawa: resilience dan ubet
Daftar isi
“Kuat bukan berarti tidak pernah jatuh. Kuat adalah selalu menemukan alasan untuk bangkit.”
Dua Kata yang Menguatkan
Setiap orang pasti pernah berdiri di titik paling lelah, merasa dunia tidak berpihak, lalu bertanya dalam hati, “aku masih sanggup, tidak, ya?” Jawabannya sering kali tidak datang dari seminar mahal, tetapi dari kearifan yang sudah lama hidup di sekitar kita, dalam dua kata sederhana: resilience dan ubet.
Yang pertama akrab di dunia psikologi modern. Yang kedua adalah kata Jawa yang sering kita dengar dari orang tua, tetapi jarang kita renungkan. Ketika keduanya dipertemukan, lahir satu pemahaman utuh: tidak mudah tumbang ketika kesulitan datang, dan tidak betah berdiam diri ketika masih ada jalan yang bisa dicari.
Resilience: “Aku Bisa Bangkit”
Resilience adalah kemampuan untuk tetap berdiri ketika hidup menekan, tetap berusaha ketika gagal, dan bangkit setelah jatuh. Namun ia bukan tentang hidup tanpa masalah. Orang yang resilien memahami bahwa masalah adalah bagian dari perjalanan, bukan penyimpangan darinya.
Kita sering diam-diam percaya bahwa orang kuat adalah mereka yang tak pernah terlihat rapuh. Kenyataannya terbalik. Orang tangguh bukan yang kebal dari luka, tetapi yang tahu cara bangun lagi, meski dengan langkah yang gemetar.
Kesulitan tidak selalu datang untuk menghancurkan; kadang ia datang untuk membentuk. Kegagalan bukan identitas, melainkan informasi tentang bagian mana yang perlu diperbaiki. Dan tidak semua masalah harus segera selesai; sebagian memang perlu dihadapi dengan sabar. Orang tangguh bukan yang tak pernah lelah, melainkan yang tetap melangkah meski lelah itu nyata.
Ubet: “Aku Akan Mencari Jalan”
Jika resilience berbicara tentang bertahan, ubet berbicara tentang bergerak. Dalam bahasa Jawa, ubet menggambarkan sosok yang cekatan, rajin, kreatif, penuh inisiatif, dan tidak mudah menyerah mencari jalan keluar. Semangatnya terangkum dalam satu pergeseran pikiran:
“Ora iso?” menjadi “Piye carane supaya iso?” (Dari “tidak bisa?” menjadi “bagaimana caranya supaya bisa?”)
Semangat ubet terdiri dari beberapa unsur yang saling menopang: obah, bergerak dan tidak hanya menunggu keajaiban; mikir, memakai akal untuk mencari alternatif; ngupaya, berusaha sungguh-sungguh; adaptif, segera mencari cara lain ketika cara pertama gagal; gigih, tidak menyerah pada percobaan pertama; dan migunani, memastikan apa yang dilakukan benar-benar bermanfaat.
Perlu diingat, ubet tidak sama dengan sibuk. Banyak orang tampak sibuk seharian tetapi tak menghasilkan apa-apa. Aja mung katon sibuk: jangan hanya terlihat sibuk. Jadilah orang yang gerakannya menghasilkan karya, solusi, dan manfaat yang nyata.
Ketika Keduanya Bertemu
Resilience menjawab pertanyaan, “bagaimana aku tetap berdiri?” Ubet menjawab pertanyaan berikutnya, “setelah berdiri, apa yang akan aku lakukan?” Resilience membuat kita tidak tumbang; ubet membuat kita tidak diam.
Resilience tanpa ubet membuat seseorang kuat bertahan, tetapi bisa berhenti di situ saja. Ubet tanpa resilience membuat seseorang banyak bergerak, tetapi mudah menyerah ketika benturannya keras. Baru ketika keduanya berjalan beriringan, lahirlah sikap tahan banting sekaligus pantang menyerah.
Mengubah Pertanyaan, Mengubah Arah
Filosofi ini mengajak kita berani mengganti pertanyaan saat menghadapi kesulitan. Dari “kenapa ini terjadi kepadaku?” menjadi “apa yang bisa kupelajari?” Dari “ini sulit” menjadi “bagaimana caranya?” Dari “aku gagal” menjadi “apa yang perlu diperbaiki?” Dari “tidak ada jalan” menjadi “mungkin jalannya belum kutemukan.” Pertanyaan yang kita ajukan diam-diam menentukan ke mana energi dan pikiran kita bergerak.
Ketika masalah datang, urutannya sederhana: jangan panik, terima kenyataan, tetap tenang, belajar dari situasi, cari alternatif, bergerak dan mencoba, evaluasi, perbaiki, lalu coba lagi. Ujungnya tidak selalu berupa masalah yang langsung hilang. Kadang kemenangan sejati adalah menyadari bahwa hari ini kita lebih kuat daripada kemarin.
Berusaha, Lalu Berserah
Kita tidak selalu bisa menentukan apa yang terjadi, tetapi selalu bisa memilih cara meresponsnya. Ada hal yang harus diterima, ada yang harus diperjuangkan, ada yang diperbaiki pelan-pelan, dan ada yang pada titik tertentu harus dilepaskan.
Maka peganglah prinsip ini: berdoa agar hati tetap kuat, berusaha agar langkah menjadi nyata, ubet dalam mencari jalan, resilience dalam bertahan, dan berserah atas hasil akhirnya kepada Yang Maha Kuasa.
Penutup: Menjadi Pribadi yang Migunani
Tujuan akhirnya bukan sekadar menjadi kuat atau produktif, melainkan menjadi pribadi yang tangguh, ulet, sekaligus bermanfaat. Ada perbedaan halus antara orang yang hanya bertanya “bagaimana aku keluar dari masalah ini?” dan orang yang juga bertanya “setelah melewati ini, apa yang bisa kuberikan kepada orang lain?” Pertanyaan kedua mengubah ketangguhan pribadi menjadi energi kebermanfaatan.
Jangan takut pada jalan yang sulit, karena bisa jadi jalan itulah yang sedang membentukmu. Dan ketika satu pintu tertutup, jangan habiskan hidup mengetuk pintu yang sama. Berdoalah, berpikirlah, bergeraklah, dan carilah jalan yang lain.
“Ora gampang ambruk, ora gampang nyerah, lan ora seneng mung meneng. Nalika ana alangan, digoleki dalane; nalika tiba, tangi maneh; nalika gagal, sinau maneh; lan nalika wis bisa, dadi wong sing migunani.”
Tidak mudah tumbang, tidak mudah menyerah, dan tidak suka hanya berdiam diri. Ketika ada halangan, carilah jalannya; ketika jatuh, bangkitlah; ketika gagal, belajarlah lagi; dan ketika sudah mampu, jadilah orang yang bermanfaat.
(oleh: syahril_ardi, dari buku “Akar yang Kuat”)